Senin, 30 April 2012

KEANEKARAGAMAN MAKHLUK HIDUP DAN UPAYA PELESTARIANNYA (K.D. WAJIB)


MODUL 1
KEANEKARAGAMAN HAYATI
                                                    Ummul Hasanah

PENDAHULUAN

Modul merupakan bahan ajar cetak yang dirancang untuk dapat dipelajari secara mandiri oleh peserta pembelajaran. Modul disebut juga media untuk belajar mandiri karena di dalamnya telah dilengkapi petunjuk untuk belajar sendiri. Artinya, pembaca dapat melakukan kegiatan belajar tanpa kehadiran pengajar secara langsung. Bahasa, pola, dan sifat kelengkapan lainnya yang terdapat dalam modul ini diatur sehingga ia seolah-olah merupakan “bahasa pengajar” atau bahasa guru yang sedang memberikan pengajaran kepada murid-muridnya. Maka dari itulah, media ini sering disebut bahan instruksional mandiri. Pengajar tidak secara langsung memberi pelajaran atau mengajarkan sesuatu kepada para murid-muridnya dengan tatap muka, tetapi cukup dengan modul-modul ini.
Modul merupakan alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya.
Modul ini berisi pembelajaran mengenai Keanekaragaman Hayati. Kita hidup di bumi dengan jumlah ras yang sangat banyak. Ada orang yang berkulit putih, hitam, sawo matang, dan lain-lain. Ada yang berambut keriting, lurus, berombak, dan lain-lain. Di muka bumi ini, tak ada satu pun makhluk hidup yang memiliki bentuk maupun rupa yang sama. Bagaimana pun persis atau miripnya seseorang pasti ada yang membedakannya. Begitu pula dengan orang yang kembar identik. Semua itu karena adanya keanekaragaman pada makhluk hidup. Keanekaragaman ini dikarenakan adanya beberapa faktor yang memengaruhinya.
Modul ini merupakan bagian dari mata pelajaran Biologi SMP VII yang secara khusus membahas Keanekaragaman Hayati. Secara konseptual modul ini dirancang untuk memfasilitasi siswa agar mampu menganalisis konsep dari keanekaragaman yang terjadi pada makhluk hidup. Adapun SK, KD, maupun tujuan dari pembelajaran modul ini antara lain:
Standar Kompetensi
Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem
Kompetensi Dasar
Mengidentifikasikan pentingnya keanekaragaman makhluk hidup dalam pelestarian ekosistem
Tujuan Pembelajaran
1.   Menjelaskan pengertian sumber daya alam hayati.
2.   Menyebutkan beberapa jenis tumbuhan yang telah langka di Indonesia.
3.   Menyebutkan beberapa jenis hewan yang telah langka di Indonesia.
4.   Menyebutkan beberapa jenis kegiatan manusia yang mengancam keanekaragaman hayati di Indonesia.
5.   Menjelaskan upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia.

Untuk memfasilitasi Anda dalam upaya mencapai tujuan-tujuan tersebut, dalam modul ini akan dibahas:
1.   Konsep Keanekaragaman Hayati
2.   Keanekaragaman Hayati di Indonesia
3.   Ancaman Keanekaragaman Hayati di Indonesia dan Usaha Pelestariannya

Melalui modul ini Anda diharapkan mengikuti petunjuk belajar sebagai berikut:
1.   Bacalah bagian Uraian dari setiap Kegiatan Belajar dengan cermat sampai Anda dapat menangkap makna dari berbagai sisi teori belajar dan pembelajaran.
2.   Bacalah Rangkuman yang disediakan untuk memberikan ringkasan tentang aspek-aspek esensial dari setiap Kegiatan Belajar. Namun Anda juga diminta untuk membuat rangkuman yang menurut Anda merupakan inti dari kegiatan belajar tersebut.
3.   Kerjakan Tes Formatif yang disediakan untuk mengecek seberapa jauh Anda mencapai tujuan pembelajaran setiap kegiatan belajar tanpa melihat kunci jawaban yang telah disediakan.
4.   Bila Anda merasa telah menjawab Tes Formatif dengan baik, bandingkanlah jawaban Anda tersebut dengan Kunci Jawaban yang disediakan. Bila setelah dihitung ternyata Anda telah mencapai tingkat penguasaan sama atau lebih besar dari 80%, Anda dipersilakan untuk meneruskan ke Kegiatan Belajar selanjutnya.


KEGIATAN BELAJAR 1
Konsep Keanekaragaman Hayati

A.    Pengertian Keanekaragaman Hayati
Setiap hari kita dapat menyaksikan dan melihat berbagai macam makhluk hidup yang ada di sekitar kita. Misalnya, di halaman rumah, halaman sekolah, kebun, sawah, sungai, atau di batang pepohonan. Di sana kita dapat temukan berbagai makhluk hidup, misalnya rerumputan, pohon jambu, ulat, semut, laba-laba, kupu-kupu, ikan, katak, cacing tanah, ayam, burung, dan beberapa makhluk hidup renik seperti bakteri. Tentu saja mereka memiliki ciri-ciri dan tempat hidup yang berbeda satu terhadap yang lain. Melalui pengamatan atau observasi, kita dapat membedakan mereka berdasarkan bentuk tubuh, ukuran tubuh, warna tubuh, tempat hidup, tingkah laku, bentuk interaksi, cara reproduksi, dan jenis makanannya. Pada akhirnya, kita akan memperoleh suatu gambaran umum bahwa ada keragaman di antara mereka. Keberagaman mereka itulah yang kita kenal sebagai keanekaragaman hayati atau biodiversitas.
Mengapa terjadi keanekaragaman hayati? Ada dua faktor penyebab terjadinya keanekaragaman, yaitu faktor keturunan atau faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor keturunan disebabkan oleh adanya gen yang akan memberikan sifat dasar atau sifat bawaan. Sifat bawaan ini diwariskan secara turun-temurun dari induk kepada keturunannya. Namun, sifat bawaan terkadang tidak muncul (tidak tampak) karena faktor lingkungan. Faktor bawaan sama, tetapi lingkungannya berbeda, akan mengakibatkan sifat yang tampak menjadi berbeda. Jadi, terdapat interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan. Karena adanya kedua faktor tersebut, muncullah keanekaragaman hayati.
Setiap sistem lingkungan memiliki keanekaragaman yang berbeda. Keanekaragaman hayati ditunjukkan, antara lain, oleh variasi bentuk, ukuran, jumlah (frekuensi), warna, dan sifat-sifat lain makhluk hidup, sedangkan keseragaman adalah ciri yang sama yang terdapat dalam satu spesies.
B.     Tingkatan Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati (biodiversitas) adalah keseluruhan variasi makhluk hidup, baik bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat, yang dapat ditemukan pada tingkat gen, spesies, maupun tingkat ekosistem. Dengan demikian, perbedaan antara berbagai organisme ataupun ekosistem disebabkan oleh variasi yang dimiliki oleh masing-masing organisme atau ekosistem. Keanekaragaman tersebut berlangsung mulai dari tingkatan gen, jenis, sampai ekosistem.
1.   Keanekaragaman Tingkat Gen
Keanekaragaman tingkat gen mewakili variasi-variasi yang diturunkan dalam populasi dan antarpopulasi dari suatu makhluk hidup. Gen adalah materi hereditas di dalam kromosom yang mengendalikan sifat makhluk hidup yang diturunkan dari induk atau orang tua kepada keturunannya. Keragaman gen terletak pada variasi rangkaian empat pasang basa komponen asam nukleat yang juga merupakan kode gen.
Variasi gen yang muncul pada individu dapat diakibatkan oleh mutasi dan reproduksi seksual. Mutasi dapat terjadi pada gen ataupun kromosom. Keturunan dari hasil reproduksi seksual (perkawinan) memiliki susunan perangkat gen dari  kedua induk tersebut menyebabkan keragaman individu dalam satu spesies. Keragaman gen dapat diidentifikasi pada semua tingkat organisasi, termasuk jumlah DNA dalam setiap sel, struktur kromosom, dan jumlah kromosom. Untuk lebih memahami konsep keragaman gen, cobalah amati Gambar 1.1.
Gambar 1.1. Keragaman tingkat gen. Keragaman pada spesies ayam, Gallus gallus: (a) ayam petelur, (b) ayam kate, (c) ayam hutan
Gambar tersebut memperlihatkan berbagai ragam ayam, yaitu ayam hutan, ayam petelur, ayam kampung, dan ayam kate. Keempatnya termasuk ke dalam spesies yang sama, yaitu Gallus gallus. Akan tetapi, dapat dilihat adanya variasi pada spesies tersebut, di antaranya bentuk dan ukuran tubuh, warna bulu, dan bentuk pial (jengger).
2.      Keanekaragaman Tingkat Spesies
Keanekaragaman pada tingkat jenis terjadi karena adanya variasi dari spesies tersebut. Dalam urutan taksonomi, variasi terletak satu tingkat di bawah spesies. Di atas dijelaskan bahwa terdapat keseragaman dalam tingkatan spesies, tetapi di dalam keseragaman ini terdapat keanekaragaman pula. Keanekaragaman ini tidak lain disebabkan oleh keanekaragaman gen yang mengontrol spesies. Misalnya, spesies Homo Sapiens dan manusia mempunyai keseragaman ciri, yaitu bipedal (berjalan dengan dua kaki), mempunyai volume otak di atas 1.100 cc, dan memiliki wajah proporsional dengan dua mata menghadap depan. Akan tetapi, manusia di dunia ini juga memiliki keanekaragaman. Misalnya, manusia Indonesia memiliki warna kulit sawo matang, rambut hitam, dan postur tubuh tidak terlalu tinggi, sedangkan manusia Amerika memiliki warna kulit putih, rambut pirang, dan postur tubuh tinggi.
Gambar 1.2 Keragaman tingkat spesies. Dalam golongan burung dapat dijumpai: (a) ayam  (b) merpati, (c) itik
Pada tingkat taksonomi yang lebih tinggi, keanekaragaman jenis dapat diamati dengan mudah. Di lingkungan sekitar dapat dijumpai berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Di dalam satu famili rumput (Gramineae) dapat dijumpai, di antaranya, rumput teki, padi, dan jagung. Di dalam golongan burung dapat dijumpai, antara lain, angsa, ayam, merpati, kalkun, dan burung unta.
3.      Keanekaragaman Tingkat Ekosistem
Keanekaragaman pada tingkat ekosistem terjadi akibat interaksi yang kompleks antara komponen biotik dengan abiotik. Interaksi biotik terjadi antara makhluk hidup yang satu dengan yang lain (baik di dalam jenis maupun antarjenis) yang membentuk suatu komunitas, sedangkan interaksi biotik-abiotik terjadi antara makhluk hidup dengan lingkungan fisik, yaitu suhu, cahaya, dan lingkungan kimiawi, antara lain, air, mineral, dan keasaman.
Dengan beraneka ragamnya kondisi lingkungan dan keanekaragaman hayati, terbentuklah keanekaragaman ekosistem. Tiap-tiap ekosistem memiliki keanekaragaman makhluk hidup tertentu pula. Misalnya, ekosistem padang rumput, ekosistem pantai, ekosistem hutan hujan tropik, dan ekosistem air laut. Tiap-tiap ekosistem memiliki ciri fisik, kimiawi, dan biologis tersendiri. Flora dan fauna yang terdapat di dalam ekosistem tertentu berbeda dengan flora dan fauna yang terdapat di dalam ekosistem yang lain. Untuk lebih memahami keanekaragaman tingkat ekosistem, perhatikan gambar 1.3.
  
Gambar 1.3 Keragaman tingkat ekosistem. Dalam golongan burung dapat dijumpai: (a) hutan bakau  (b) savana, (c) terumbu karang
RANGKUMAN


1.   Keanekaragaman hayati (biodiversitas) adalah keseluruhan variasi makhluk hidup, baik bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat, yang dapat ditemukan pada tingkat gen, spesies, maupun tingkat ekosistem.
2.   Keanekaragaman hayati berlangsung mulai dari tingkatan gen, jenis, sampai ekosistem.
3.   Keanekaragaman tingkat gen mewakili variasi-variasi yang diturunkan dalam populasi dan antarpopulasi dari suatu makhluk hidup.
4.   Keanekaragaman pada tingkat jenis terjadi karena adanya variasi dari spesies tersebut.
5.   Keanekaragaman pada tingkat ekosistem terjadi akibat interaksi yang kompleks antara komponen biotik dengan abiotik.

 TES FORMATIF 1
Pilihlah salah satu jawaban yang tepat!
1.   Faktor yang menyebabkan  terjadinya keanekaragaman pada makhuk hidup, yaitu....
a.       faktor lingkungan
b.      faktor kebiasaan
c.       faktor keturunan
d.      a dan c benar
2.   Berikut pernyataan yang berkaitan dengan faktor terjadinya keanekaragaman, kecuali....
a.       faktor yang menyebabkan terjadinya keanekaragaman ialah faktor lingkungan dan genetik
b.      faktor keturunan disebabkan oleh adanya gen yang akan memberikan sifat dasar atau sifat bawaan.
c.       faktor bawaan sama, tetapi lingkungannya berbeda, akan mengakibatkan sifat yang tampak menjadi berbeda.
d.      sifat bawaan akan selalu tampak pada individu dan menyebabkannya berbeda
3.   Tingkatan kehidupan yang mencakup keanekaragaman hayati, kecuali....
a.       populasi
b.      spesies
c.       gen
d.      ekosistem
4.   Kelompok yang merupakan keanekaragaman tingkat gen ialah....
a.       mangga golek, mangga arum manis, mangga apel
b.      buaya muara, buaya darat, kadal
c.       ayam, itik, bebek
d.      ayam ras, ayam kampung, entok
5.   Kelompok yang merupakan keanekaragaman tingkat spesies ialah....
a.       mangga golek dan mangga arum manis
b.      padi pelita dan padi cisadane
c.       buaya dan kadal
d.      ayam ras dan ayam kampung
6.   Savana, hutan bakau, hutan pegunungan, dan terumbu karang merupakan contoh dari keanekaragaman....
a.       hayati
b.      gen
c.       spesies
d.      ekosistem



 KUNCI JAWABAN
Tes Formatif 1
1.   d
2.   d
3.   a
4.   a
5.   c
6.   d

 UMPAN BALIK
Tes Formatif 1
1.   Faktor yang menyebabkan terjadinya keanekaragaman hayati ialah faktor lingkungan dan faktor keturunan atau faktor genetik
2.   Ada dua faktor penyebab terjadinya keanekaragaman, yaitu faktor keturunan atau faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor keturunan disebabkan oleh adanya gen yang akan memberikan sifat dasar atau sifat bawaan. Sifat bawaan ini diwariskan secara turun-temurun dari induk kepada keturunannya. Namun, sifat bawaan terkadang tidak muncul (tidak tampak) karena faktor lingkungan. Faktor bawaan sama, tetapi lingkungannya berbeda, akan mengakibatkan sifat yang tampak menjadi berbeda.
3.   Keanekaragaman hayati mencakup 3 tingkatan, yaitu keanekaragaman gen, spesies, dan ekosistem
4.   Keanekaragaman tingkat gen mewakili variasi-variasi yang diturunkan dalam populasi dan antarpopulasi dari suatu makhluk hidup. Kelompok yang merupakan keanekaragaman tingkat gen ialah mangga golek, mangga arum manis, dan mangga apel.
5.   Kelompok yang merupakan keanekaragaman tingkat spesies ialah buaya dan kadal. Sedangkan pilihan yang lain merupakan contoh dari keanekaragaman tingkat gen
6.   Savana, hutan bakau, hutan pegunungan, dan terumbu karang merupakan contoh dari keanekaragaman tingkat ekosistem.

DAFTAR PUSTAKA
Subahar, Tati Suryati Syamsudin. 2006. Biologi. Jakarta:Quadra
Sudjadi, Bagod dan Siti Laila. 2004. Biologi:Sains dalam Kehidupan. Jakarta: Yudhistira
Sulistyorini, Ari. 2009. Biologi. Jakarta: Depdiknas

 
KEGIATAN BELAJAR 2
Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Indonesia secara geografis terletak di antara garis 6°LU-11°LS dan 95°BT-141°BB, beriklim tropis, dan dilewati oleh garis khatulistiwa. Indonesia terletak di antara benua Asia (wilayah Oriental) dan benua Australia (wilayah Australian). Indonesia juga merupakan tempat pertemuan dua rangkaian pegunungan muda, yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania.
Akibat pengaruh letak geografis, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keragaman hayati tertinggi di dunia sehingga mendapat julukan negara megadiversitas. Padahal luas daratan Indonesia hanya 1,5% dari luas dunia. Keragaman hayati tersebut mencakup ekosistem, spesies, dan genetik yang berada di darat, perairan air tawar, maupun pesisir dan laut. Bahkan banyak spesies di Indonesia yang merupakan makhluk hidup endemik, yaitu taksa yang terbatas pada daerah geografi tertentu.

A.    Keanekaragaman Flora
Wilayah Indonesia termasuk dalam daerah fitogeografik Malesiana. Daerah Malesiana meliputi Malaysia, Sumatra, Jawa, Kepulauan Sunda Kecil, Kalimantan, Filipina, Sulawesi, Maluku, Papua, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon. Komposisi tumbuhan hutan Indonesia bagian barat memiliki kesamaan dengan Vietnam, Malaysia, Filipina, India, dan Thailand yang termasuk dalam kawasan Indo-Malaysia, sedangkan wilayah Indonesia bagian timur lebih mirip dengan Australia.
  
Gambar 2.1 beberapa jenis tumbuhan khas Indonesia damar, cengkih, pala
Hutan hujan tropis pada wilayah Malesiana didominasi oleh Dipterocarpaceae, seperti kamper, keruing, dan meranti. Wilayah Sumatra dan Kalimantan didominasi oleh hutan hujan tropis yang heterogen dengan curah hujan dan kelembapan relatif tinggi, sedangkan wilayah pantainya banyak ditumbuhi vegetasi bakau. Contoh tumbuhan yang merupakan tumbuhan yang banyak tumbuh di Sumatra maupun Kalimantan adalah karet dan kelapa sawit. Jenis hutan di Jawa dan Bali lebih bervariasi dariipada Sumatra dan Kalimantan. Hal ini disebabkan variasi kelembapan dan curah hujan yang lebih besar. Semakin ke arah timur, maka curah hujan dan kelembapannya semakin menurun. Akibatnya, di wilayah Jawa dan Bali dapat ditemukan hutan hujan tropis, hutan monsun tropik, hutan savana tropik, dan hutan bakau. Wilayah Indonesia bagian tengah yang meliputi Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku memiliki curah hujan dan kelembapan yang lebih rendah dibandingkan wilayah Indonesia lainnya. Jenis vegetasi yang dapat ditemukan di wilayah tersebut antara lain savana tropis, hutan pegunungan, dan hutan campuran. Wilayah Papua (wilayah Indonesia bagian timur) umumnya dipenuhi dengan hutan hujan tropis yang setipe dengan Australia Utara. Wilayah tersebut didominasi tumbuhan Eucalyptus sp.

B.     Keanekaragaman Fauna
Jenis-jenis hewan yang ada di Indonesia diperkirakan berjumlah sekitar 220.000 jenis yang terdiri atas lebih kurang 200.000 serangga (± 17% fauna serangga di dunia), 4.000 jenis ikan, 2.000 jenis burung, serta 1.000 jenis reptilia dan amphibia.
Pembagian fauna menjadi dua kelompok didasarkan pada adanya Paparan Sunda dan Paparan Sahul menjadi lebih jelas lagi daripada pembagian flora. Di sini dapat ditarik garis pemisah yang lebih jelas yang disebut garis Wallace (ditemukan oleh Alfred Russel Wallace). Beberapa jenis hewan, seperti ikan tawar dari kelompok timur dan barat penyebarannya tidak pernah bertemu. Akan tetapi, ada pula hewan-hewan, seperti burung, amphibia, dan reptilia yang sering kali antara penyebaran kelompok timur dan barat saling tumpang-tindih. Paparan sunda sangat kaya akan berbagai jenis mamalia dan burung; diperkirakan di kawasan ini terdapat ratusan jenis burung dan 70% di antaranya merupakan penghuni hutan primer darat; keanekaragaman ini jauh lebih tinggi daripada di Afrika.
Gambar 2.2. Garis Wallace dan Weber
Indonesia terbagi menjadi dua zoogeografi yang dibatasi oleh garis Wallace. Garis Wallace membelah Selat Makassar menuju ke selatan hingga ke Selat Lombok. Jadi, garis Wallace memisahkan wilayah Oriental (termasuk Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan) dengan wilayah Australia (Sulawesi, Irian, Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur).
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Weber, seorang ahli zoologi dari Jerman. Menurut Weber, hewan-hewan yang ada di Sulawesi tidak semuanya tergolong kelompok hewan Australia karena ada juga yang memiliki sifat-sifat Oriental sehingga Weber berkesimpulan bahwa hewan-hewan Sulawesi merupakan hewan peralihan. Weber kemudian membuat garis pembatas yang berada di sebelah timur Sulawesi memanjang ke utara menuju Kepulauan Aru yang kemudian dikenal dengan nama garis Weber. Sebagai bukti, Sulawesi merupakan wilayah peralihan, contohnya, di Sulawesi terdapat Oposum dari Australia dan kera Macaca dari Oriental.
Fauna daerah Oriental yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Kalimantan serta pulau-pulau di sekitarnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Banyak spesies mamalia berukuran besar, seperti badak, gajah, banteng, dan harimau. Terdapat pula mamalia berkantung, tetapi jumlahnya sedikit, bahkan hampir tidak ada.
2.      Terdapat berbagai macam kera, terutama di Kalimantan yang paling banyak memiliki primata, misalnya, orang utan, kukang, dan bekantan.
3.      Burung-burung yang dapat berkicau, tetapi warnanya tidak seindah burung Australia, misalnya, jalak bali (Leucopsar rothschildi), murai (Myophoneus melurunus), ayam hutan berdada merah (Arborphila hyperithra), dan ayam pegar (Lophura bulweri).
Gambar 2.3. Fauna daerah Indonesia bagian barat: gajah, bekantan, dan jalak bali
Fauna daerah Indonesia bagian timur, yaitu Irian, Maluku, dan Nusa Tenggara relatif sama dengan Australia. Ciri-ciri yang dimilikinya adalah sebagai berikut.
1.Mamalia berukuran kecil. Di Irian dan Papua terdapat kurang lebih 110 spesies mamalia, misalnya, kuskus (Spilocus maculates) dan Oposum. Di Irian juga terdapat 27 hewan pengerat (rodensial), dan 17 di antaranya merupakan spesies endemik.
2.Banyak hewan berkantung. Di Irian dan Papua banyak ditemukan hewan berkantung, seperti kanguru (Dendrolagus ursinus).
3.Tidak terdapat spesies kera. Spesies kera tidak ditemukan di daerah Australia, tetapi di Sulawesi ditemukan banyak hewan endemik, misalnya, primata primitif Tarsius spectrum, musang (Macrogalida musschenbroecki), babirusa, anoa, maleo, dan beberapa jenis kupu-kupu.
4.      Jenis burung berwarna indah dan beragam. Papua memiliki koleksi burung terbanyak dibandingkan pulau-pulau lain di Indonesia, kira-kira 320 jenis, dan setengah di antaranya merupakan spesies endemik, misalnya, burung cenderawasih.
Gambar 2.4. Fauna daerah Indonesia bagian timur: kuskus, tarsius, dan maleo
C.     Flora dan Fauna Berstatus Langka yang Terancam Punah
Indonesia adalah negara yang mempunyai kekayaan alam luar biasa. Sebagai negara yang letaknya strategis secara geografis dan memiliki variasi kondisi alam, membuat Indonesia bertabur dengan aneka jenis hewan serta tumbuhan. Flora dan Fauna negara kepulauan dengan suasana iklim tropis ini memiliki keunikan dan keragaman  tersendiri sehingga dapat dikatakan bahwa Indonesia adalah salah satu cagar alam dunia.  Namun, di antara flora dan fauna yang tersebar di Indonesia, terdapat jenis-jenis yang mengalami kelangkaan. Kelangkaan ini muncul karena berbagai hal seperti: Secara alamiah susah bereproduksi, kepunahan habitat dan ekosistem pendukung, sampai diburu dan dihancurkan oleh manusia sendiri. Oleh karena itu, kita sebagai Rakyat Indonesia yang cinta dengan keindahan dan khazanah bangsa harus turut memahami dan melakukan tindakan pelestarian.
Tindakan preventif yang diambil Pemerintah Indonesia untuk mendukung pelestarian flora dan fauna langka di Indonesia di antaranya membuat cagar alam dan suaka margasatwa baik secara in situ maupun ex situ. Kebijakan lainnya adalah pelarangan penangkapan atau pemeliharaan makhluk hidup (binatang dan tanaman) langka tersebut tanpa izin tertentu.
Beberapa jenis flora yang dilindungi dan terancam punah, antara lain bunga bangkai, meranti jawa, keruing, damar, meranti merah, meranti putih, dan masih banyak lagi. Adapun fauna yang dilindungi dan terancam punah antara lain jalak bali, elang laut punggung hitam, anoa, komodo, tarsius, badak jawa, cendrawasih, dan masih banyak lagi.

RANGKUMAN
1.   Wilayah flora Indonesia termasuk dalam daerah fitogeografik Malesiana. Beberapa jenis flora yang dilindungi dan terancam punah, antara lain bunga bangkai, meranti jawa, keruing, damar, meranti merah, meranti putih, dan masih banyak lagi.
2.   Indonesia terbagi menjadi dua zoogeografi yang dibatasi oleh garis Wallace dan garis Weber. Beberapa fauna yang dilindungi dan terancam punah antara lain jalak bali, elang laut punggung hitam, anoa, komodo, tarsius, badak jawa, cendrawasih, dan masih banyak lagi.

 TES FORMATIF 2
Pilihlah salah satu jawaban yang tepat!
1.   Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, sehingga disebut sebagai....
a.       megadiversitas
b.      makrodiversitas
c.       jumbodiversitas
d.      mikrodiversitas
2.   Contoh tumbuhan yang banyak tumbuh di daerah Sumatra dan Kalimantan adalah....
a.       kelapa dan sagu
b.      sagu dan karet
c.       kelapa dan bakau
d.      kelapa dan karet
3.   Tumbuhan yang banyak dijumpai di Papua yang merupakan tumbuhan ciri khas dari Australia ialah....
a.       pohon kelapa
b.      pohon kayu putih
c.       gandum
d.      sagu
4.   Garis Wallace mebagi wilayah pembagian fauna Indonesia menjadi....
a.       wilayah Oriental yang terdiri atas Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi dengan wilayah Australia yang terdiri atas Maluku dan Papua
b.      wilayah Oriental yang terdiri atas Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan dengan wilayah Australia yang terdiri atas Sulawesi, Irian, Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur
c.       wilayah Oriental yang terdiri atas Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan dengan wilayah Australia yang terdiri atas Sulawesi, Irian, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur
d.      wilayah Oriental yang terdiri atas Sumatra, Jawa, dan Kalimantan dengan wilayah Australia yang terdiri atas Sulawesi, Irian, Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur
5.   Ciri-ciri yang dimiliki oleh fauna Indonesia wilayah Oriental antara lain, kecuali....
a.       mamalia berukuran besar
b.      burung-burung bersuara merdu
c.       burung-burung berwarna menarik
d.      terdapat berbagai macam kera
6.   Yang termasuk flora yang dilindungi dan terancam punah yaitu....
a.       Rafflessia arnoldii
b.      Allium cepa
c.       Oryza sativa
d.      Bambusa vulgaris
7.   Yang termasuk fauna yang dilindungi dan terancam punah yaitu....
a.       Gallus gallus
b.      Lencopsar rothcshildi
c.       Felis domestica
d.      Rana cancarivora

 KUNCI JAWABAN
Tes Formatif 2
1.   a
2.   d
3.   b
4.   b
5.   c
6.   a
7.   d

 UMPAN BALIK
Tes Formatif 2
1.   Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman makhluk hidup terbesar disebut sebagai megadiversitas.
2.   Contoh tumbuhan yang banyak tumbuh di daerah Sumatra dan Kalimantan adalah kelapa dan karet, sedangkan sagu banyak tumbuh di Maluku dan Papua
3.   Tumbuhan yang banyak dijumpai di Papua yang merupakan tumbuhan ciri khas dari Australia ialah pohon kayu putih (Eucalyptus sp). Hal ini dikarenakan di Papua juga terdapat hewan endemik Australia, yaitu koala, di mana koala memiliki makanan khas yaitu daun pohon kayu putih.
4.   Garis Wallace mebagi wilayah pembagian fauna Indonesia menjadi wilayah Oriental yang terdiri atas Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan dengan wilayah Australia yang terdiri atas Sulawesi, Irian, Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
5.   Fauna daerah Oriental yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Kalimantan serta pulau-pulau di sekitarnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Banyak spesies mamalia berukuran besar, seperti badak, gajah, banteng, dan harimau. Terdapat pula mamalia berkantung, tetapi jumlahnya sedikit, bahkan hampir tidak ada.
b.      Terdapat berbagai macam kera, terutama di Kalimantan yang paling banyak memiliki primata, misalnya, orang utan, kukang, dan bekantan.
c.       Burung-burung yang dapat berkicau, tetapi warnanya tidak seindah burung Australia, misalnya, jalak bali (Leucopsar rothschildi), murai (Myophoneus melurunus), ayam hutan berdada merah (Arborphila hyperithra), dan ayam pegar (Lophura bulweri).
6.   Beberapa jenis flora yang dilindungi dan terancam punah, antara lain bunga bangkai, meranti jawa, keruing, damar, meranti merah, meranti putih, dan masih banyak lagi.
7.   Fauna yang dilindungi dan terancam punah antara lain jalak bali, elang laut punggung hitam, anoa, komodo, tarsius, badak jawa, cendrawasih, dan masih banyak lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Priadi, Arif. 2009. Biologi. Jakarta: Yudhistira
Subahar, Tati Suryati Syamsudin. 2006. Biologi. Jakarta:Quadra
Sulistyorini, Ari. 2009. Biologi. Jakarta: Depdiknas


KEGIATAN BELAJAR 3
Ancaman terhadap Biodersivitas dan Upaya Pelestariannya

A.    Kegiatan Manusia yang Memengaruhi Biodersivitas
Sudah merupakan suatu hal biasa kalau orang-orang pencinta lingkungan hidup selalu mengumandangkan kekhawatiran mereka tentang kelestarian hayati. Berbagai imbauan, peringatan, dan kekhawatiran tentang hal ini telah dilakukan baik melalui iklan media massa, penyuluhan maupun diklat-diklat.
Ancaman terbesar aktivitas manusia terhadap biodiversitas adalah kerusakan habitat asli. Kerusakan hutan atau terumbu karang sangat berpengaruh pada organisme yang menghuninya. Kerusakan habitat asli dapat terjadi karena beberapa kegiatan manusia sebagai berikut:
1.      Perusakan, Fragmentasi, dan Pemusnahan Habitat
Di Indonesia, problem kepadatan penduduk menjadi faktor yang langsung mengancam biodiversitas. Program transmigrasi dari Pulau Jawa ke pulau lain yang merupakan lahan habitat makhluk hidup kekayaan dunia telah menjadi penyebab rusak atau musnahnya habitat. Berbagai hutan di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi dibuka dan dimusnahkan untuk area pemukiman.
2.      Masuknya Jenis Hewan dan Tumbuhan Baru pada Suatu Habitat tanpa Penelitian dan Pengembangan (Litbang)
Akibat kelalaian proses litbang, masuknya hewan dan tumbuhan baru pada suatu habitat akan mengganggu keseimbangan ekosistem. Tanpa diteliti karakternya, kemungkinan hewan dan tumbuhan baru tersebut menjadi pesaing bagi hewan dan tumbuhan yang ada. Kompetitor ini mungkin akan memusnahkan organisme tuan rumah. Dapat pula hewan baru ternyata menjadi hama dan gulma.
3.      Penggunaan yang Berlebihan Jenis Tumbuhan dan Hewan pada Suatu Habitat
Manusia membutuhkan makanan, pakaian, rumah, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya dengan memanfaatkan hewan dan tumbuhan di sekitarnya. Tanpa memperhitungkan proses reproduksi hewan dan tumbuhan, manusia terus-menerus mengeksploitasi kedua jenis makhluk hidup sampai pada suatu saat banyak hewan dan tumbuhan menjadi langka atau punah.
Hewan liar diburu di berbagai tempat. Jumlah yang diburu sangat banyak. Pemburu bukan hanya tidak mempunyai izin berburu, tetapi juga melakukan perburuan di kawasan konservasi termasuk taman nasional. Perburuan komersial yang tidak terkendali merupakan masalah gawat untuk jenis tertentu. Banyak hewan buruan yang sangat disukai di Indonesia, misalnya babi rusa (Babyrousa babyrussa), anoa (Bubalus depressicornis dan B. quarlesi), Kuau raja (Argusianus argus), walabi saham (Macropus agile), rusa jawa (Cervus timorensis), kasuari (Casuarius cauaris), ular sanca batik (Phyton reticulatus), burung rangkong (Bucros bicornis), berbagai burung hias, di antaranya kakaktua raja (Proboscijer atterrimus), Kepodang (Oriolus chinensis), Curik Bali (Leucopsar roschildi), Beo (Gracula religiosa), Perkutut Jawa (Geopelia striata), ayam hutan (Gallus varius), Ikan arwana (Scleropages formosus) juga menjadi ikan yang banyak diburu.
4.      Pencemaran (Air, Tanah, Udara) dalam Ekosistem
Manusia semakin banyak. Sisa kebutuhan hidupnya merupakan limbah yang mengancam. Limbah pabrik maupun limbah domestik (dari rumah-rumah) merupakan bahan pencemar lingkungan. Satu contoh saja, mengenai limbah detergen. Detergen tidak mudah diuraikan, zat ini akan membunuh organisme perairan. Jika di perairan tersebut terdapat eceng gondok, dengan adanya detergen akan terjadi eutrofikasi, dalam waktu singkat terjadi ledakan pertumbuhan eceng gondok hingga menutup permukaan perairan. Cahaya matahari sulit masuk ke dalam perairan, menyebabkan tumbuhan air sulit melakukan fotosintesis. Rentetan berikutnya adalah kekurangan oksigen dan biota perairan mati.
5.      Perubahan Iklim Global (Pemanasan Bumi)
Penggunaan zat kimia tertentu oleh manusia (misalnya PVC), pembakaran zat tertentu, telah menyebabkan ozon atmosfer berubah wujud secara kimiawi. Akibatnya fungsi ozon sebagai penangkal cahaya matahari hilang, dan bumi menjadi panas. Bumi mengalami efek rumah kaca. Atmosfer yang rusak ozonnya disebut memiliki lubang ozon. Intensitas cahaya matahari yang dapat ditangkal sekitar 90% oleh ozon, kini mengancam bumi 100% karena lubang ozon. Bumi akan mengalami pemanasan global karena panas yang masuk tidak dapat dipantulkan melewati atmosfer bumi. Selain itu, musnahnya hutan-hutan yang menjadi paru-paru dunia, akibat eksploitasi kayu-kayu oleh manusia, menyebabkan bumi bertambah panas.
6.      Perkembangan Industri Pertanian dan Industri Perhutanan
Menurut Global Diversity Assesment, Heywod, 1995, pertanian komersial modern telah mendatangkan aspek negatif terhadap keanekaragaman hayati pada semua tingkat dari keanekaragaman ekosistem, spesies, dan genetik. Sebagai contoh, coba kita diskusikan dengan teman-teman, apa yang akan terjadi jika sebuah hutan diubah menjadi lahan monokultur. Lahan monokultur yang ada di Indonesia biasanya sawah. Sawah hanya ditanami satu jenis tanaman yaitu padi. Tentu dampaknya sangat merugikan eksistensi keanekaragaman hayati apabila hutan diubah menjadi sawah. Lahan akan kehilangan banyak plasma nutfah, ekosistem berubah, terjadi ledakan hama yang kehilangan habitatnya. Tanah pada lahan hutan yang diubah menjadi sawah lambat laun akan kehilangan banyak macam unsur hara. Dunia pertanian modern juga telah melahirkan pupuk buatan, dan pestisida kimiawi yang menyebabkan pencemaran dan kerusakan lingkungan. Pemanfaatan hasil hutan untuk segala sektor kehidupan, juga telah menyebabkan punahnya plasma nutfah.
7.      Penambangan Logam dan Pemanfaatan Biota Laut
Penambangan logam biasanya diikuti dengan pengubahan suatu daerah menjadi daerah penambangan. Hutan dibuka, lalu dibangun daerah pertambangan. Sisa bidang-bidang habitat alami semakin kecil dan terasing, sehingga jenis margasatwa setempat cenderung punah. Padahal kepunahan berarti hanya menjadi sejarah. Kita harus memerhatikan kondisi yang dianugerahkan Tuhan yang menuntut kepedulian manusia agar tidak mempercepat kepunahan suatu jenis makhluk. Kondisi tersebut, di antaranya:
a.    persebarannya sedikit dan kemampuan menyesuaikannya kecil;
b.   hanya ditemukan di daerah sempit;
c.    membutuhkan daerah luas untuk dapat bertahan hidup;
d.   dan tumbuhan dengan kekhususan tinggi;
e.    pemangsa besar yang diburu oleh manusia;
f.    mempunyai nilai komersial;
g.   pernah mempunyai kisaran luas dan berdekatan, tetapi sekarang terbatas pada kantong-kantong kecil habitat.
B.     Upaya Peletarian Keanekaragaman Hayati
Begitu pentingnya keanekaragaman makhluk hidup bagi manusia, sehingga diperlukan upaya untuk melindunginya. Berbagai cara yang dapat ditempuh untuk melestarikan keanekaragaman makhluk hidup adalah sebagai berikut.
1.      Membuat aturan perundangan yang dapat melindungi kelestarian makhluk hidup.
2.      Melakukan penyuluhan dan kampanye pentingnya pelestarian keanekaragaman makhluk hidup.
3.      Pembuatan taman nasional. Fungsi taman nasional adalah perlindungan terhadap makhluk hidup dan ekosistemnya. Beberapa contoh taman nasional yang telah dibentuk adalah sebagai berikut:
a)   Taman Nasional Gunung Leuser di Nangroe Aceh Darussalam.
b)   Taman Nasional Bukit Barisan di Bengkulu.
c)   Taman Nasional Ujung Kulon di Jawa Barat.
d)  Taman Nasional Baluran di Jawa Timur.
4.      Pembuatan cagar alam. Cagar alam adalah sebidang lahan yang dijaga untuk melindungi fauna dan flora yang ada di dalamnya. Fungsi cagar alam adalah untuk menjaga kondisi alam suatu wilayah tetap dalam keadaan alami. Beberapa contoh cagar alam adalah sebagai berikut:
a)   Cagar alam Pangandaran Jawa Barat.
b)   Cagar alam Kawah Ijen di Jawa Timur.
c)   Cagar alam Rafflesia di Bengkulu.
5.      Penetapan hutan lindung, yang berfungsi sebagai daerah resapan air, mencegah erosi, melindungi habitat berbagai jenis makhluk hidup, dan menjaga tata guna air.
6.      Hutan wisata, merupakan hutan produksi guna diambil manfaatnya dan dapat digunakan untuk objek wisata.
7.      Taman laut, didirikan untuk menjaga wilayah laut yang memiliki keanekaragaman tinggi dan unik, misalnya taman laut Bunaken di Sulawesi Utara.
8.      Pembuatan kebun raya. Kebun raya merupakan koleksi hidup, berturut-turut, tumbuhan dan hewan. Tidak banyak orang yang mengetahui fungsi kebun raya, kecuali untuk rekreasi. Fungsi kebun raya tempat koleksi tanaman dari berbagai wilayah untuk dilestarikan, untuk penelitian, dan tempat rekreasi. Contohnya adalah kebun raya Bogor, kebun raya Cibodas, dan kebun raya Purwodadi.
9.      Pemeliharaan dan penangkaran hewan baik secara in situ maupun ex situ. Hewan dipelihara di habitat aslinya disebut pemeliharaan in situ, sedangkan secara ex situ, hewan
dipelihara di luar habitat aslinya.

RANGKUMAN
1.   Ancaman terbesar aktivitas manusia terhadap biodiversitas adalah kerusakan habitat asli.
2.   Beberapa kegiatan manusia yang mengancam biodiversitas, yaitu a) perusakan, fragmentasi, dan pemusnahan habitat, b) masuknya jenis hewan dan tumbuhan baru pada suatu habitat tanpa penelitian dan pengembangan (litbang), c) penggunaan yang berlebihan jenis tumbuhan dan hewan pada suatu habitat, d) pencemaran (air, tanah, udara) dalam ekosistem, e) perubahan iklim global (pemanasan bumi), f) perkembangan industri pertanian dan industri perhutanan, dan g) penambangan logam dan pemanfaatan biota laut.
3.   Beberapa upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia, yaitu a) membuat aturan perundangan yang dapat melindungi kelestarian makhluk hidup, b) melakukan penyuluhan dan kampanye pentingnya pelestarian keanekaragaman makhluk hidup, c) pembuatan taman nasional, d) pembuatan cagar alam, e) Penetapan hutan lindung, f) hutan wisata, g) taman laut, h) pembuatan kebun raya, dan i) pemeliharaan dan penangkaran hewan baik secara in situ maupun ex situ.

 TES FORMATIF 3
Pilihlah salah satu jawaban yang tepat!
1.   Kegiatan manusia yang merusak keanekaragaman makhluk hidup antara lain, kecuali....
a.       pencemaran air, tanah, udara, dan suara
b.      penebangan liar
c.       penambangan logam
d.      perkembangan industri
2.   Manusia membutuhkan makhluk hidup lainnya untuk dapat tetap hidup, seperti dengan memanfaatkan tumbuhan dan hewan dalam pemenuhan pangan, sandang, dan papan. Namun, hal ini dapat berakibat musnahnya makhluk hidup, apabila....
a.       Penggunaannya dilakukan secara cermat dan teliti
b.      Pemanfaatannya tidak digunakan oleh dirinya, tetapi dijual kepada orang lain dengan harga yang lebih mahal
c.       Pemanfaatannya dilakukan secara berlebihan
d.      Pemanfaatannya dilakukan secara berdaya guna
3.   Pemanasan global adalah hal yang alami terjadi di muka bumi, tapi hal ini dapat berakibat terancamnya keanekaragaman makhluk hidup. Hal ini dapat menjadi tidak alami lagi dikarenakan....
a.       manusia menggunakan api untuk memasak
b.      pemanasan global membuat hutan terbakar
c.       manusia meningkatkan pemanasan global dengan penebangan hutan, pencemaran, dan sebagainya
d.      pemanasan global membuat intensitas hujan menjadi rendah
4.   Cagar alam adalah....
a.       sebidang lahan yang dijaga untuk melindungi fauna dan flora yang ada di dalamnya
b.      sebidang lahan sebagai koleksi hidup, tempat penelitian, pelestarian, dan rekreasi
c.       tempat pemeliharaan makhluk hidup di luar habitat aslinya
d.      tempat pemeliharaan makhluk hidup di habitat aslinya
5.   Bentuk-bentuk pelestarian makhluk hidup antara lain....
a.       Kebun binatang dan hutan lindung
b.      Kebun raya dan laut
c.       Laut dan hutan
d.      Laut dan cagar alam



 KUNCI JAWABAN
Tes Formatif 3
1.   a
2.   c
3.   c
4.   a
5.   a

 UMPAN BALIK
Tes Formatif 3
1.   Beberapa kegiatan manusia yang mengancam biodiversitas, yaitu a) perusakan, fragmentasi, dan pemusnahan habitat, b) masuknya jenis hewan dan tumbuhan baru pada suatu habitat tanpa penelitian dan pengembangan (litbang), c) penggunaan yang berlebihan jenis tumbuhan dan hewan pada suatu habitat, d) pencemaran (air, tanah, udara) dalam ekosistem, e) perubahan iklim global (pemanasan bumi), f) perkembangan industri pertanian dan industri perhutanan, dan g) penambangan logam dan pemanfaatan biota laut.
2.   Manusia membutuhkan makanan, pakaian, rumah, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya dengan memanfaatkan hewan dan tumbuhan di sekitarnya. Tanpa memperhitungkan proses reproduksi hewan dan tumbuhan, manusia terus-menerus mengeksploitasi kedua jenis makhluk hidup sampai pada suatu saat banyak hewan dan tumbuhan menjadi langka atau punah.
3.   Pemanasan global adalah hal yang alami terjadi di muka bumi, tapi hal ini dapat berakibat terancamnya keanekaragaman makhluk hidup. Hal ini dapat menjadi tidak alami lagi dikarenakan manusia meningkatkan pemanasan global dengan penebangan hutan, pencemaran, dan sebagainya.
4.   Cagar alam adalah sebidang lahan yang dijaga untuk melindungi fauna dan flora yang ada di dalamnya. Kebun raya merupakan koleksi hidup, berturut-turut, tumbuhan dan hewan. Tidak banyak orang yang mengetahui fungsi kebun raya, kecuali untuk rekreasi. Fungsi kebun raya tempat koleksi tanaman dari berbagai wilayah untuk dilestarikan, untuk penelitian, dan tempat rekreasi.  Hewan dipelihara di habitat aslinya disebut pemeliharaan in situ, sedangkan secara ex situ, hewan dipelihara di luar habitat aslinya.
5.   Beberapa upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia, yaitu a) membuat aturan perundangan yang dapat melindungi kelestarian makhluk hidup, b) melakukan penyuluhan dan kampanye pentingnya pelestarian keanekaragaman makhluk hidup, c) pembuatan taman nasional, d) pembuatan cagar alam, e) Penetapan hutan lindung, f) hutan wisata, g) taman laut, h) pembuatan kebun raya, dan i) pemeliharaan dan penangkaran hewan baik secara in situ maupun ex situ.

DAFTAR PUSTAKA
Priadi, Arif. 2009. Biology. Jakarta: Yudhistira
Sumarwoto, Otto. 2004. Ekologi, Lingkungan Hidup, dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan
Yani, Riana dkk. 2009. Biologi. Jakarta: Depdiknas

0 komentar:

Poskan Komentar